Songke,
Songket?
Songke adalah
salah satu kain tenun khas Manggarai. Akan tetapi, songke Manggarai ini masih begitu kurang diketahui banyak
orang. Masyarakat Manggarai sering menyebut kain Songke dengan sebutan towe atau lipa. Kain Songke ini di kenakan
oleh laki-laki dan wanita. Kain songke ini digunakan baik di rumah, maupun sat
menghadiri acara adat seperti kenduri, tarian caci, saat penikahan, dan membungkus orang yang meninggal. Tetapi
seiring berjalannya waktu, kain songke juga sudah masuk ke dalam kehidupan
modern yang dimodifikasi lewat kerajinan tangan yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari.
Sejarah
Kain Songke
Pada tahun
1613-1640 kerajaan Gowa Makasar, Sulawesi Selatan pernah berkuasa hampir
diseluruh wilayah Manggarai Raya. Pertemuan dengan berbagai macam kepentingan
budaya melahirkan sesuatu yang baru bagi masyarakat Manggaraitermasuk dalam hal
berbusana. Hal ini dapat enyebabkan sebagian besar kebuayaan dari Gowa Makasar,
Sulawesi Selatan di bawa ke Manggarai Raya dan termasuk juga masalah kain yang di pakai. Orang Orang
Makassar menyebut Songke dengan sebutan Songket, sedangkan orang
Manggarai menyebutnya dengan sebutan Songke (tanpa akhiran huruf t).
Kain ini umumnya
memiliki warna dasar hitam dengan beragam motif warna-warni di atasnya. Bagi
orang Manggarai, warna hitam melambangkan arti kebesaran dan keagungan serta kepasrahan bahwa semua manusia di bumi,
suatu saat akan kembali kepada Mori Kraeng (Sang Pencipta). Sedangkan warna untuk
morif-motif nya mengandung arti dan harapan dari masyarakat Manggarai dalam hal
kesejahteraan hidup, kesehatan, hubungan, baik antarmanusia dengan sesamanya,
dengan alam, maupun manusia dengan sang pencipta.

Komentar
Posting Komentar